Jatiluwih, Kebaikan Sempurna

by: Made Sukana (21 Desember 2016)

Siapapun yang berkunjung ke Jatiluwih akan terkagum dengan luasnya hamparan sawah yang hijau. Sebagai salah satu warisan budaya dunia, UNESCO, terasering Jatiluwih seluas 303,4 ha tersebut dikunjungi wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Wisatawan terkesan dengan keindahan terasering Jatiluwih. Mereka mengagumi sistem irigasi tradisional yang disebuk Subak. Dari kearifan lokal ini, semua sawah memperoleh air untuk tanaman padi mereka.

Sawah jatiluwih

Selain treeking di persawahan, wisatawan dapat mengunjungi rumah penduduk Desa Jatiluwih. Di sana mereka dapat melihat  tempat menyimpan padi (Jineng) yang sangat unik. Menurut penuturan penduduk setempat, mereka sudah mewarisi Jineng sejak ratusan tahun silam. Jineng sudah ada sejak mereka lahir. Sebuah Jineng tertulis angka tahun 1979. Pada rumah keluarga lainnya dapat ditemui Jineng yang dibangun tahun 1958. Kedua Jineng itu merupakan Jineng yang baru dibuat pada tahun tersebut, seiring dengan bertambahkan hasil padi mereka.

Satu keluarga ada yang memiliki 1 buah Jineng. Beberapa keluarga mempunyai 2 hingga 3 buah Jineng. Kepemilikan Jineng menjadi sebuah prestise. Hal ini terkait dengan luasnya lahan sawah yang dimiliki.

Petani di Jatiluwih masih mempertahankan tradisi untuk menanam beras merah pada bulan Januari setiap tahunnya. Dalam perhitungan kalender Bali menggunakan perhitungan tahun Saka, Bulan Januari merupakan bulan Ketujuh (Sasih Kapitu). Kesepakan ini dituangkan dalam aturan tradisional (awig-awig). Mereka meyakini hasil panen beras merah lebih bagus jika ditanam pada Bulan Januari. Pernah suatu waktu, beberapa warga mencoba menanam beras putih, namun hasilnya tidak maksimal.

Masyarakat Jatiluwih terkenal taat menjaga adat istiadat dan tradisi. Salah satu tradisi yang masih dilakukan adalah menanam pohon nangka.  Namun, mereka pantang untung menjual pohonnya. Mereka hanya menggunakannya untuk kebutuhan membangun Pura ataupun rumah.

Proses menanam padi dimulai dengan pembibitan. Pada tahap ini memerlukan waktu sekitar 3-4 minggu untuk menyiapkan bibit padi dan kesipan lahan untuk ditanami. Cara pembibitan di Desa Jatiluwih sangatlah unik. Petani pada umumnya menggunakan gabah dalam biji sebagai bibit. Di Jatiluwih, petani menggunakan gabah yang masih lengkap dengan pohon padi. Mereka mencari bibit yang berkualitas untuk diletakkan di tanah yang terendam air. Gabah tersebut tumbuh menjadi bibit padi yang siap ditanam.

View Sawah Jatiluwih

Di sela-sela menaman padi, beberapa petani menanam pohon atu palawija seperti kelap,  pisang, kacang panjang, jagung dan sebagainya. Hasil tanaman tersebut digunakan untuk keperluan memasak bagi keluarga.

Di sekitar hamparan sawah tersedia restoran jalur wisatawan yang selesai mengikuti trekking. Pedagang menjual hasil padi beras merah, ketan, dan beras putih.

Sebagai respon kehadiran wisatawan, penduduk lokal menyediakan jasa homestay. Wisatawan dapat menginap di homestay ataupun villa yang dibangun di Jatiluwih. Menginap di Jatiluwih dapat menjadi pengalaman yang berharga bagi wisatawan. Udara yang segar dan pemandangan yang indah dapat menyegarkan pikiran.

Pada saat hujan, siapkan sepatu untuk trekking. Jika Anda menggunakan sandal yang licin, disarankan untuk berpetualang dengan jalan kaki tanpa menggunakan sandal. Anda dapat mencuci kaki pada finish point jalur trekking.

Selain menanam padi, petani juga beternak sapi Bali. Semangat (passion) mereka dalam bertani menunjukkan kebaikan hati mereka. Bertani sebuah pekerjaan menyenangkan dan bagian dari mempertahankan tradisi dan warisan leluhur. Petani sangatlah erat dengan budaya ataupun ritual yang dilaksanakan penduduk Jatiluwih. Bentuk pelayanan kepada sesama untuk menyediakan padi sebagai makanan pokok. Bentuk pengabdian yang tulus dan rasa bakti kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, sebuah kebaikan sempurna, the perfect kindness.