DESA TRADISIONAL PENGLIPURAN

Desa Penglipuran berada dalam wilayah Kabupaten Bangli. Anda bisa mengunjungi desa ini dalam perjalanan Anda menuju objek Kintamani dengan jarak tempuh sekitar 1 jam dari Denpasar. Berada di lokasi sekitar  700 dpl membuat Desa ini memiliki udara yang cukup sejuk. Desa Penglipuran merupakan salah satu Desa Wisata yang ada di Bali. Yang menarik dari Desa ini bukan hanya keunikan adat dan budayanya.  Wisatawan datang ke Desa ini karena juga karena keasrian dan kerapian Desanya.

SEJARAH DESA PENGLIPURAN

Masyarakat Desa Penglipuran percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Desa bayung Gede, Kintamani. Masyarakat Desa Bayung Gede merupakan orang-orang kepercayaan raja yang banyak ditugaskan dalam berperang dan kegiatan kerajaan lainnya pada masa pemerintahan kerajaan Bangli. Raja memberi tempat untuk beberapa orang kepercayan di Desa Penglipuran karena Lokasi Desa Bayung Gede yang jauh dari pusat Kerajaan. Dahulu Desa Penglipuran disebut dengan nama “ Kubu Bayung” yang memiliki arti pondok untuk orang Bayung Gede.

Ada beberapa istilah dan arti dari kata Penglipuran.

  1. Berasal dari kata “Pengeling Pura = Pengingat Pura”. Dalam Hal ini masayarakat Desa Penglipuran dimanapun berada akan selalu ingat pada Pura, leluhur dan tanah kelahiran. Dalam perjalanannya masyarakat Penglipuran membangun Pura yang sama dengan Pura yang ada di Bayung Gede sehingga masyarakat Desa Penglipuran selalu ingat dengan Pura yang ada di Bayung Gede.
  2. Berasal dari kata “Pelipur” dan “lara”. Penglipuran menjadi penghibur disaat duka lara. Konon masyarakat Penglipuran juga menghibur hari Raja saat Raja sedang ada masalah.
  3. Berasal dan kata “pangleng” dan “pura”. Hal ini berarti bahwa Desa Penglipuran dikelilingi oleh Pura-Pura. Untuk memasuki Desa Penglipuran akan melewati pura di 4 penjuru mata angina yaitu Timur, Barat, Utara dan Selatan.

KEUNIKAN DESA WISATA PENGLIPURAN

Desa Wisata Penglipuran memiliki beberapa keunikan baik dari segi budaya maupun penataan Desanya. Desa ini hanya terdiri dari 76 Rumah dengan desain arsitektur yang hampir sama. 76 Rumah tersebut merupakan keluarga utama (keluarga pengarep) yang memiliki tanggung jawab terhadap segala kewajiban adat dan Pura. Ke 76 ruma tersebut berjajar rapi di sepanjang jalan utama Desa. Struktur Desa Penglipuran dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian hulu yang merupakan bangunan suci (Pura), bagian tengah (Kawasan perumahan) dan Hilir (Pemakaman dan pertanian).

Dari sisi jalan akan kita lihat bangunan gapura/ angkul-angkul yang seragam dengan atap yang terbuat dari bambu. Setiap rumah memiliki luas pekarangan yang sama. Setiap pekarangan rumah akan memiliki beberapa bangunan utama yang berupa tempat suci (pura), dapur tradisional lengkap dengan lumbung padi di dalamnya, Bale Dangin (Bale tempat untuk pelaksanaan upacara adat yang terkait dengan manusia), bale daja (Rumah tinggal), kamar mandi dan lokasi pemeliharaan ternak.

Antara pekarangan rumah yang satu dengan lainnya harus memiliki pintu penghubung (pintu koneksi) yang menghubungkan antara rumah satu dengan tetangga kiri dan kanannya. Masyarakat Desa Penglipuran memiliki filosofi untuk menjunjung tinggi  nilai kerukunan dan perdamaian antar warga. Apabila salah satu anggota keluarga ada yang meninggal maka tidak diperkenankan bagi anggota keluarga untuk mengumumkan kepada warga Desa. Dalam hal ini yang berkewajiban adalah tetangga kiri dan kanan. Aturan ini memungkinkan bahwa setiap anggota keluarga harus memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarga yang lain.

Masyarakat Desa Penglipuran sangat menjunjung tinggi kesetiaan dengan tidak diperbolehkan adanya poligami. Hal ini diatur dalam aturan adat dan ada sanksi sosial bagi masyarakatnya yang melanggar. Selain kehilangan haknya di dalam adat dan Pura, masyarakat juga telah menyediakan pekarangan khusus untuk mereka tinggal. Masyarakat Desa Penglipuran menamainya dengan istilah “karang memadu”. Kesetiaan mereka terbukti  dengan masih kosongnya lahan karang memadu tersebut.

ATRAKSI WISATA DESA PENGLIPURAN

Banyak hal yang bisa dilihat dan dinikmati di Desa Wisata Penglipuran.

Pura. Pura yang ada di Desa Penglipuran menjadi sangat istimewa dengan latar jalan utama  Desa yang diapit deretan gerbang rumah di kiri kanannya.

Deretan Gerbang rumah. Deretan gerbang rumah yang berjajar rapi di sepanjang jalan utama membuat Desa ini terlihat indah dan rapi. Seluruh atap gerbang yang terbuat dari bilah bambu dan adanya taman kecil di depan pagar (telajakan) yang menambah kesan asri.

Hutan Bambu. Desa Penglipuran masih memiliki Hutan bambu seluas 45 are (4.500 m2) yang tetap terjaga keberadaannya. Masyarakat masih menjaga dan mensakralkan hutan tersebut, sehingga tidak diperkenankan mengambil dan mempergunakan bambu yang tumbuh di hutan tersebut dengan sembarangan. Perlu hari khusus untuk memotongnya, itupun hanya bisa digunakan dalam upacara keagamaan. Wisatawan bisa melakukan trekking di hutan ini sambil mengamati beberapa jenis bambu yang ada.

Homestay. Tersedia homesatay bagi Wisatawan yang ingin menikmati dan merasakan suasana dan menjadi bagian dari Desa ini.

Kuliner. Desa Penglipuran memiliki minuman khas yang bernama “ loloh cemcem”. Loloh cemcem merupakan minuman tradisional yang terbuat dari air kelapa muda yang dicampur dengan perasan daun cemcem dan dicampur dengan bumbu khas lainnya. Bagi masyarakat Bali, loloh cemcem dianggap memiliki fungsi untuk mengatasi rasa kurang nyaman di bagian perut. Selain loloh cemcem, masyarakat Desa Penglipuran juga membuat kue tradisional klepon ubi ungu.

SELAMAT BERWISATA